PANTAUAN ANCAMAN KEKERINGAN DI JAWA TIMUR


 

Pada rentang musim kemarau 2009 ini, telah dimonitor….
Surabaya, dpuairjatim.org
Pada rentang musim kemarau 2009 ini, telah dimonitor adanya ancaman kekeringan di 5 Kabupaten di Jawa Timur.
Namun pada daerah-daerah tersebut telah dilakukan penanganan sehingga tidak sampai menimbulkan gagal panen/ puso.
Kondisi ancaman kekeringan merupakan kondisi dimana areal sawah irigasi sudah mulai kekurangan air namun kondisi tanaman
padi masih baik. Pada kondisi kritis ini masih dapat dilakukan antisipasi agar tidak terjadi kerusakan pada tanaman atau
hingga puso (gagal panen).
Sejak sebelum awal musim kemarau 2009, telah dilakukan pendataan terhadap wilayah rawan kekeringan oleh Dinas PU Pengairan
Provinsi Jawa Timur terutama untuk areal sawah beririgasi. Dari hasil pendataan, diprediksikan daerah yang masuk kategori
rawan kering seluas 42.691 ha yang tersebar di 21 Kabupaten/ Kota di wilayah Jawa Timur (lihat tabel 1).
Hingga awal Agustus 2009, telah ada beberapa laporan mengenai wilayah yang mengalami ancaman kekeringan. Laporan dimaksud
yaitu adanya ancaman kekeringan di 5 Kabupaten seluas 5.352 ha sawah yaitu masing-masing di Kabupaten Tulungagung (821 ha),
Kab. Nganjuk (439 ha), Mojokerto (488 ha), Sidoarjo (1.069 ha) dan Madiun (2.535 ha) (lihat tabel 2).
Untuk mencegah memburuknya kondisi daerah terancam kering, dapat dilakukan penanganan dengan pompa air, sumur pantek,
suplisi air, perubahan pola dan beberapa penanganan lainnya yang menggunakan teknologi modifikasi cuaca (TMC) atau yang
kita kenal dengan hujan buatan. Untuk daerah terancam kering di 5 Kabupaten tersebut, telah dilakukan penanganan sbb:
Kab. Nganjuk, Kab. Tulungagung dan Mojokerto dilakukan pemompaan dan sumur pantek.
Penanganan di Kab. Sidoarjo dilakukan dengan memanfaatkan air dari sungai terdekat yaitu K. Gedeg.
Penanganan di Kab. Madiun dengan mensuplisi air dari Waduk Kedung Brubus.
Dengan upaya-upaya tersebut, maka sampai dengan tanggal 10 Agustus 2009 belum ada tanaman beririgasi yang mengalami kekeringan dan berakibat gagal panen.
Dalam rangka menghadapi kemungkinan terjadi kekurangan air pada tanaman MK 2, maka dihimbau agar petani menanam polowijo atau sesuai dengan pola yang disepakati. Selain itu untuk menghadapi kemungkinan kekurangan air pada akhir musim kemarau, diusulkan agar dikaji feasibility pelaksanakan TMC, khususnya di hulu WS Brantas dan WS Bengawan Solo di bulan September 2009 untuk pengisian waduk-waduk. (op)

Pada rentang musim kemarau 2009 ini, telah dimonitor….
Surabaya, dpuairjatim.org

Pada rentang musim kemarau 2009 ini, telah dimonitor adanya ancaman kekeringan di 5 Kabupaten di Jawa Timur. Namun pada daerah-daerah tersebut telah dilakukan penanganan sehingga tidak sampai menimbulkan gagal panen/ puso.
Kondisi ancaman kekeringan merupakan kondisi dimana areal sawah irigasi sudah mulai kekurangan air namun kondisi tanaman padi masih baik. Pada kondisi kritis ini masih dapat dilakukan antisipasi agar tidak terjadi kerusakan pada tanaman atau hingga puso (gagal panen).
Sejak sebelum awal musim kemarau 2009, telah dilakukan pendataan terhadap wilayah rawan kekeringan oleh Dinas PU Pengairan Provinsi Jawa Timur terutama untuk areal sawah beririgasi. Dari hasil pendataan, diprediksikan daerah yang masuk kategori rawan kering seluas 42.691 ha yang tersebar di 21 Kabupaten/ Kota di wilayah Jawa Timur (lihat tabel 1).
Hingga awal Agustus 2009, telah ada beberapa laporan mengenai wilayah yang mengalami ancaman kekeringan. Laporan dimaksud yaitu adanya ancaman kekeringan di 5 Kabupaten seluas 5.352 ha sawah yaitu masing-masing di Kabupaten Tulungagung (821 ha), Kab. Nganjuk (439 ha), Mojokerto (488 ha), Sidoarjo (1.069 ha) dan Madiun (2.535 ha) (lihat tabel 2).
Untuk mencegah memburuknya kondisi daerah terancam kering, dapat dilakukan penanganan dengan pompa air, sumur pantek, suplisi air, perubahan pola dan beberapa penanganan lainnya yang menggunakan teknologi modifikasi cuaca (TMC) atau yang kita kenal dengan hujan buatan. Untuk daerah terancam kering di 5 Kabupaten tersebut, telah dilakukan penanganan sbb:

  • Kab. Nganjuk, Kab. Tulungagung dan Mojokerto dilakukan pemompaan dan sumur pantek.

 

  • Penanganan di Kab. Sidoarjo dilakukan dengan memanfaatkan air dari sungai terdekat yaitu K. Gedeg.

 

  • Penanganan di Kab. Madiun dengan mensuplisi air dari Waduk Kedung Brubus.

Dengan upaya-upaya tersebut, maka sampai dengan tanggal 10 Agustus 2009 belum ada tanaman beririgasi yang mengalami kekeringan dan berakibat gagal panen.Dalam rangka menghadapi kemungkinan terjadi kekurangan air pada tanaman MK 2, maka dihimbau agar petani menanam polowijo atau sesuai dengan pola yang disepakati. Selain itu untuk menghadapi kemungkinan kekurangan air pada akhir musim kemarau, diusulkan agar dikaji feasibility pelaksanakan TMC, khususnya di hulu WS Brantas dan WS Bengawan Solo di bulan September 2009 untuk pengisian waduk-waduk. (op)

 

Sumber

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s