BENCANA SITU GINTUNG APA YANG TERJADI ?


Seolah tidak lepas dari “kutukan” negeri kita selalu dikagetkan oleh berbagai bencana  yang terjadi dan tidak diduga sebelumnya, seolah Tuhan jadi tersangka mengirim balabencana  yang seolah-olah Tuhan tidak lagi “rahman dan rahim”, seolah  malapetaka yang disebabkan oleh alam yang murka terhadap kita.  Benarkah demikian ? perlu dicari akar permasalahan yang sebenarnya untuk mengurai permasalahan yang ada .

Negeri kita merupakan merupakan surga dunia karena terdapat matahari sepanjang tahun, air melimpah, pantai yang indah dan hutan yang luas, tetapi benarkah itu semua membawa berkah atau berubah berkah menjadi bencana.    Alam itu sudah sangat ideal, daerah-daerah tropis dengan curah hujan tinggi seperti di pulau Sumatera, dan Kalimantan yang mepunyai ukuran  DAS yang besar di bagian hilir terdapat  hamparan lahan dataran rendah yang luas dan umunya berupa lahan gambut dan lahan mineral.  Di P . Jawa yang didonminasi gunung berapi umumnya tanahnya subur dan mempunyai solum tanah yang dalam akibat erupsi dari lava gunung berapi sehingga tanahnya mamapu menyimpa air yang banyak dan di bagian hilir terdapat rawa, danau, dan situ-situ sebagai tandon air.

Berdasarkan  sejarah pembuatannya Situ Gintung dibangun pada th 1933 untuk kepentingan irigasi di daerah Ciputat, berdasarkan  pembagian DAS,  Situ Gintung masuk kedalam DAS Pesangrahan, DAS Pesangrahan ini merupakan DAS tipe perkoataan (urban watershed) karena hulunya ada di kota Bogor dengan penutupan lahan didominasi oleh lahan terbangun (build up area).   Jumlah penduduk  1.228.562 dengan tingkat kepadatan 6.900 orang/km2  dan lebih dari 52 % merupakan daerah terbangun seperti yang disajikan pada Gambar dibawah ini.

sg1sg2

Berdasarkan hasil pengamatan   luas Daerah Tangkapan Air  (DTA)  Situ Gintung  seluas 292.6 ha, dengan penutupan lahan  berdasarkan interpretasi data citra satelit SPOT th 2005 yang dominan adalah lahan terbangun berupa pemukiman seluas 186.8 ha atau 63.85 % dan tubuh air seluas 19,634 ha atau 6,71 % sehingga hampir 70.5 %  merupakan daerah terbangun dengan  potensi limpasan yang tinggi.   Selebihnya  berupa lahan berupa kebun, ladang  yang masih mampu meresapkan air.

sg3

Berdasarkan Gambar 2. di atas daerah yang tidak meresapkan air adalah yang berwarna merah dan biru, sedangkan dari potensi lahan daerah sekitar Situ Gintung merupakan daerah kipas aluvial yang sangat bagus dalam meresapkan air, permasalahannya tidak pernah  ada pintu masuk untuk masuknya air kedalam tanah.

sg4

Potensi Lahan pemukiman yang terkena dampak overtopping : 8.22 Ha, sebelum air masuk ke Pesanggrahan seperti yang disajikan pada Gambar 4 di Bawah ini.

sg5

Berdasarkan hasil analisis potensi limpasan  dengan intensitas curah huan 70 mm/jam  untuk periode ulang 25 th yang berlangsunf selama 3 jam sekitar 210 mm/hari  maka kejadian hujan tgl 26 Maret 2009 hanya 113 mm di Ciputat artinya hanya periode ulang 10 tahunan. Akibat hujan tersebut  menimbulkan limpasan sebanyak  196.963  m3  atau akan manaikan ketinggian waduk di situ gintung setinggi 1.0m saja.

sg6

Kondisi ini berbeda sekali dengan kondisi di th 1933 pad saat situ dibangun  kondisi lingkungan sekitarnya  masih alami maka dengan hujan yang sama  hanya akan menimbulkan limpasan sebesar   91.369 m3   atau dengan kata lain telah terjadi peningkatan limpasan sebesar 105.593 m3 atau meningkat sebesar 215 %.  Kondisi bendung S. Gintung dengan kondisi pemeliharaan yang kurang baik, pintu air pelimpah tidak berfungsi maka otomatis bendungan jebol, sehingga jangan menyalahkan hujan sebagai penyebabnya karena hukum alam dan curah hujan masih normal-normall saja.  Lingkungan disekitar situ berubah tetapi manajemen pengelolaannya tidak berubah maka wajar menimbulkan bencana yang tidak terkirakan sebelumnya dengan jumlah korban lebih dari 100 jiwa dan 70 dinyatakan hilang, dengan kerusakan materi yang sangat besar.

Solusi  untuk kedepan maka S. Gintung harus dikembalikan fungsinya dengan dibangun kembali dengan konstruksi yang lebih kuat, dibuatkan pintu pelimpah dan di bagian hulu dari DTA Situ Gintung d bangun Bioretensi di setipa rumah/lahan terbangun 300 m2 dibuat boretensi yang diperlukan sebanyak  6.229 unit dengan prkiraan biaya sebesar  Rp 18,6 Milyar.    Dengan kontruksi ini maka peranan Situ Gintung sebagai daerah wisata, daerah  resapan air, daerah retensi air dapat difungsikan dengan baik.  Semoga terlaksana dengan baik.

Oleh:

NANA M ARIFJAYA

nmulyana@ipb.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s