Waduk Karian: Air Baku Untuk Warga Kota


27 November 2007
Bicara soal pembangunan Waduk Karian, belum lengkap jika belum bicara dengan Ir. Agus Djati Wiryono. Dia adalah Kepala Bidang Perencanaan Operasional dan Pemeliharaan Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau-Ciujung-Ciduran, Departemen Pekerjaan Umum Republik Indonesia, orang yang dianggap paling tahu detil proyek Waduk Karian. Beikut wawancara Reporter Suara Publik (SP) Marwan Azis dengan Agus Djati Wiryono (ADW) SP : Apa yang mendasari rencana pembangunan Waduk Karian di Kabupaten Lebak?

ADW : Berdasarkan kajian di lingkungan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, pembangunan Waduk Karian dilakukan untuk memenuhi kebutuhan air baku di Kota Serang dan Kabupaten Tangerang, Propinsi Banten. Untuk 2005 –kebutuhan pasokan air baku– di dua wilayah itu sudah defisit.

SP : Maksudnya defisit seperti apa?

ADW : Menurut catatan kami, total kebutuhan air di Tangerang dan Serang pada 2005 mencapai 11,9 meter kubik per detik. Itu terbagi atas keperluan rumah tangga di Tangerang sebesar 5,2 meter kubik per detik, industri 2,1 meter kubik, total 7,3 meter kubik per detik. Untuk wilayah Serang kebutuhan rumah tangga (perkotaan) sebesar 2 meter kubik per detik, industri 2,6 meter kubik per detik, total 4,6 meter kubik per detik. Adapun dari sisi pasokan air di Tangerang pada 2005 hanya sebesar 4,58 meter kubik per detik, dengan perincian 4,51 meter kubik per detik untuk rumah tangga dan 0,07 meter kubik per detik untuk industri. Jadi untuk Tangerang terdapat defisit antara kebutuhan dan pasokan sebesar 2,72 meter kubik per detik. Untuk kota Serang terdapat defisit 4,28 meter kubik karena dari kebutuhan 4,6 meter kubik per detik hanya bisa disuplai sebesar 0,32 meter kubik per detik.

SP : Apakah untuk tahun-tahun mendatang masih terjadi defisit?

ADW : Kalau melihat proyeksi tahun 2012 dengan asumsi tidak ada peningkatan pasokan, maka kekurangan air di Tangerang naik dari 2,72 meter kubik per detik pada 2005 menjadi 8,12 meter kubik per detik pada 2012. Sementara di Serang ada defisit dari 4,28 meter kubik pada 2005 menjadi 5,48 meter kubik per detik pada 2012 karena pertumbuhan industri di Serang relatif kecil. Sampai tahun 2012 total kekurangan air untuk rumah tangga dan industri di Tangerang dan Serang mencapai 13,6 meter kubik per detik. Oleh sebab itu kajian Diretorat Jenderal Sumber Daya Air sangat relevan, yakni kita harus membangun prasarana berupa waduk untuk memenuhi kebutuhan pasokan air.

SP : Jadi pembangunan Waduk Karian ini akan diarahkan untuk memenuhi air minum di perkotaan dan bukan untuk memenuhi irigasi di pertanian?

ADW : Utamanya untuk keperluan air minum dan kebutuhan air baku bagi warga perkotaan.

SP : Lalu manfaat waduk ini bagi warga Kabupaten Lebak jika pemanfaatan waduk ini lebih diarahkan untuk daerah perkotaan?

ADW : Kita melihat masyarakat tidak bisa dipisahkan antara kota dan desa. Yang di desa dan di hulu semuanya masyarakat Banten. Di Serang dan Tangerang juga warga Banten. Konsekuensi dari penyediaan air memang warga di hulu lebih banyak berkorban, sementara di hilir lebih banyak menerima manfaat. Selalu begitu. Kebetulan di daerah hilir merupakan daerah perkotaan. Tapi kita sebenarnya tidak sengaja mendesain orang kota yang paling banyak dapat manfaatnya dan orang desa yang harus berkorban.

SP : Apakah pembangunan Waduk Karian merupakan solusi terbaik untuk mengatasi kekurangan pasokan air, mengingat di daerah hulu kondisinya sudah kritis? Jangan-jangan setelah dibangun waduknya ternyata tidak ada air?

ADW : Dengan kecenderungan yang terjadi sekarang ini, tidak hanya di Banten, di daerah lain pun sama. Yakni debit andalan sungai di mana-mana cenderung menurun dibandingkan sebelum tahun 90-an. Ini karena kondisi lahan di daerah hulu atau tangkapan air semakin rusak atau gundul. Sehingga cara yang paling mungkin ialah melakukan konservasi air dengan menambung air melalui waduk. Kalau hanya mengharapkan debit air sungai pada musim hujan jelas banyak. Tapi pada musim kemarau pasti kekurangan air karena daerah tangkapan air sudah tidak bisa menahan air. Untuk menyeimbangkan itu, kita lakukan konservasi air dengan cara air pada musim hujan kita tampung dalam waduk, kemudian kita manfaatkan pada musim kemarau.

SP : Bagaimana gambaran desain waduk karian?

ADW : Waduk Karian direncanakan akan berkapasitas tampung 208 juta meter kubik. Berdasarkan kajian hidrologi, waduk ini akan mampu mengalirkan 14,6 meter per detik. Rencananya debit sebesar itu akan kita salurkan ke timur yaitu arah Serpong-Tangerang sebesar 9,1 meter kubik, dan 5,5 meter kubik akan dialirkan ke utara melalui sungai. Inilah yang akan memberikan sulvesi untuk sistem irigasi di daerah Ciujung yang luas arealnya mencapai 22 ribu hektar.
Dari 5,5 meter kubik tadi, berapa yang akan dijadikan air baku dan berapa untuk irigasi? ADW ADW : Belum ada kejelasan, tapi nanti akan kita buat kesepakatan pengelolaan. Sekarang ada Tim Koordinasi Pengelola Sumber Daya Air atau PKBSDA pusat yang dibentuk Presiden, ada PKBSDA daerah dibentuk oleh Gubernur. Di Banten sudah ada Dewan Sumber Daya Air Provinsi Banten, hanya masa kerjanya sampai pertengahan 2007. Mungkin Balai Besar Cidanau-Ciujung- Cidurian harus memfasilitasi kembali pembentukannya.

SP : Berapa nilai proyek Waduk Karian dan dari mana sumbernya?

ADW : Anggaran pembangunan Waduk termasuk saluran pembawanya sekitar 3,025 triliun. Dengan pembagian 48,8 persen untuk bendungan, 51,2 persen untuk saluran pembawanya. Sumber dana pokoknya berasal dari APBN, ada juga dari dana pinjaman donor atau lembaga keuangan negara. Yang sudah dianggarakan baru pembebasan tanah. Yang lainnya menyusul sesuai kebutuhan pelaksanaan proyek di lapangan.

SP : Bagaimana seharusnya pemda dan pemerintah pusat mengatasi masalah pendanaan ini?

ADW : Sudah ada kesepekatan antara pemda dan pemerintah pusat bahwa pemda akan berkontribusi namun belum jelas berapa persentasenya? Pemda sudah menyatakan siap untuk membantu dalam pembebasan tanah. Kita dari Balai Besar memang mengharapkan demikian. Contoh yang terjadi di Semarang, itu kontribusi pemerintah provinsi dan kabupaten mencapai 50 persen. Artinya kalau kita perlu biaya pembebasan tanah kurang lebih hampir 400 milyar, maka diharapkan pemda provinsi dan kabupaten bersama-sama bisa berkontribusi sekitar 200 milyar sementara separuhnya akan ditanggulangi pemerintah pusat.

SP : Bagaimana dengan pinjaman dari luar negeri?

ADW : Bantuan dari luar negeri sudah dimulai. Dari segi perencanaan desain biaya berasal dari pemerintah Korea Selatan yang berjalan sejak 2004 sampai 2006. Bantuan dari luar negeri itu berbentuk pinjaman. Sementara ini Memorandum of Understanding (MoU) mengenai dana pinjaman baru mencakup pembangunan bendungan sebesar 1 triliun rupiah lebih.

SP : Berapa luas tanah yang harus dibebaskan untuk membangun waduk karian?

ADW : Untuk daerah genangan yaitu 1740 hektar terletak di 4 kecamatan dan 11 desa di Kabupaten ebak. Kalau luas keseluruhan yang harus dibebaskan termasuk untuk keperluan sarana pendukung mencapai 2000 hektar.

SP : Adakah masalah terkait harga pembebasan tanah warga? Apakah sudah sesuai Nilai Jual Objek Pajak (NJOP)?

ADW : Harga tanah berdasarkan NJOP Propinsi Banten sekitar 3500 sampai 5000 rupiah per meter persegi. Sedangkan harga tanah milik warga yang akan dibebaskan kami hargai 10 ribu per meter persegi. Jadi sudah dua kali lipat dari harga NJOP.

SP : Keuntungan apa yang diperoleh masyarakat setempat?

ADW : Bagi masyarakat sekitar waduk, dengan adanya waduk Karian merupakan kesempatan bekerja. Kalau mungkin rekrutmen dari warga setempat. Tentu tidak semuanya warga lokal, tapi sesuai kebutuhan. Pada tahap pembangunan waduk, tentu akan melibatkan tenaga sekitar sesuai skill mereka. Namun paling panjang pada tahap pengelolaan akan merekrut warga setempat. Misalnya, warga yang tinggal di daerah hulu waduk, diharapkan bisa memelihara kawasan tangkapan air sesuai kaidah konservasi air. Ke depan mungkin perlu ada pemberian insentif bagi warga hulu yang ikut menjaga kelestarian lingkungan. Selain itu akan kita dorong pengaadaan prasana air bersih untuk kebutuhan warga. Kalau perlu kita bantu investasinya dengan skim skala kecil. Misalnya ada 11 desa, tiap desa kita buatkan skim 10 liter, lalu kita bangun prasarananya. Kemudian kita latih agar masyarakat bisa mengelola sendiri.

SP : Kapan persisnya pembangunan waduk Karian akan direalisasikan?

ADW : Kalau mungkin kita mulai tahun 2008. Diharapkan pada 2012 waduk Karian sudah selesai dibangun. Begitupun saluran pembawanya di daerah Serpong dan Tangerang.

SP : Sekarang ini sudah sampai tahap mana?

ADW : Kita sudah mulai sosailisai dan persiapan untuk pembebasan lahan.

SP : Mohon klarifikasinya soal informasi yang mengatakan Jakarta akan memperoleh manfaat pendistribusian air baku dari Waduk Karian?

ADW : Yang pertama saya luruskan, Tangerang adalah wilayah Banten. Yang ada dalam desain, air hanya akan disalurkan sampai Tangerang. Tidak ada yang melintas ke Jakarta. Kalau mau ke Jakarta, empat bendungan yang potensial di Banten dibangun yaitu Bendungan Karian (208 juta meter kubik), Bendungan Tanjung (120 juta meter kubik), Bendungan Pasir Kopo (44,5 juta meter kubik) dan Bendungan Cilawang (62 juta meter kubik). Kalau empat bendungan itu dibangun barangkali kita bisa mengalirkan pasokan air ke Jakarta. Kapasitas waduk karian sendiri hanya 14,5 meter kubik, sementara untuk kebutuhan Serang dan Tangerang saja sampai tahun 2012 diperkirakan 13,6 m3 kekuranganya. Jadi kalau hanya kelebihan 1 meter kubik, kecil sekali untuk disalurkan keluar seperti ke Jakarta.

SP : Bagaimana manajemen waduk karian ke depan? Akankah dikelola swasta atau pemerintah?

ADW : Sementara penanggung jawab pengelolaan akan kembali ke Dirjen Pengelolaan Sumber Daya Air melalui Balai Besar Cidanau-Ciujung-Cidurian. Tapi ke depan dengan adanya peraturan perundang-undangan mengenai perimbangan keuangan dimungkinkan ada pengelolaan dalam bentuk Badan Layanan Umum (BLU). Jadi kelak mungkin saja ada BLU untuk membantu pemerintah dalam hal operasi dan pelayanan (***/SP).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s