REALISASI WADUK JATIGEDE TINGGAL MENUNGGU WAKTU


Pemerintah hingga saat ini masih menantikan kepastian dari pemerintah China menyangkut jadi tidaknya memberikan bantuan dana bagi pembangunan Bendungan (Waduk) Jatigede di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Departemen PU memprediksikan untuk merealisasikan bendungan ini diperlukan dana sekitar Rp 2,1 triliun. Sementara itu pemerintah China sebelumnya berminat dan bersedia memberikan bantuan dana untuk mewujudkan bendungan no.2 terbesar di Indonesia setelah Bendungan Djuanda di Purwakarta ini.

Hal itu diutarakan Dirjen Sumber Daya Air, Iwan Nusyirwan Diar saat menggelar temu  pers yang didampingi Direktur Sungai, Danau dan Waduk Widagdo dan Direktur Pengelolaan Sumber Daya Air Ditjen SDA, Imam Anshori &nbspKamis (26/7) di Jakarta.

Menurut Dirjen SDA sejak lama masalah Waduk Jatigede sudah ditawarkan kepada investor asing. Namun hanya pemerintah China yang berminat. Dalam pembicaraan sebelumnya pemerintah China telah menunjuk Sinohydro Corporation Limited untuk membangun Waduk Jatigede dengan bekerjsama dengan konsorsium dari Indonesia. Dan 30 April 2007 lalu kontrak telah ditandatangani selanjutnya diproses oleh Depkeu dan Exim bank China.

“Dalam kerjasama tersebut China mensyaratkan kontrak diproses dulu baru bantuan cair. &nbspKini kontrak tengah diproses. Kita tunggu saja hasilnya,” ungkap Iwan Nusyirwan kepada pers.

Waduk Jatigede memerlukan pembebasan lahan yang cukup luas yakni 9.558 ha terdiri dari lahan milik rakyat dan milik perhutani. Lahan yang telah dibebaskan hingga saat ini baru sekitar 3.301 ha sisanya akan dibebaskan tahun 2008.  Praktis bila Waduk ini dibangun 2008 maka 2012 bisa difungsikan.  Iwan menyatakan, Waduk Jatigede perlu dibangun mengingat volume aliran permukaan Sungai Cimanuk semakin besar. Sementera debit puncak banjir semakin besar akibat aliran dasar (base flow) semakin kecil. Guna mencegah terjadinya bencana kekeringan dan banjir di musim hujan pada bagian hilir, maka satu-satunya jalan adalah Waduk Jatigede segera dibangun.

Pemerintah juga merencanakan untuk membangun Waduk Karian di Kabupaten Serang, Banten. Kehadiran Waduk ini sangat dinantikan masyarakat Banten. Hampir 80% lebih masyarakat mendukung pembangunan Waduk ini.  Detail Desain sudah selesai dibuat 2006. Hasil kajian menyatakan tidak ada dampak signifikan dari pembangunan waduk ini. Bila 2008 dikerjakan, 2012 diperkirakan rampung. “Waduk ini sangat potensial bila dibangun. Dengan beroperasinya waduk ini nantinya dapat memberikan pasokan air untuk wilayah Jabotabek, Karawang, Serang dan Purwakarta,” tambah Iwan Nusyirwan Diar.

Bencana kekeringan dan banjir selalu terjadi di pantai utara Jabar bagian Timur. Salah satu penyebabnya adalah rusaknya daerah tangkapan air di Wilayah Sungai Cimanuk yang ditandai penurunan daerah resapan. Selain itu, degradasi daerah tangkapan air sudah pada taraf mengkawatirkan, dengan nilai koefisien run-off mencapai 0,74. &nbspBerdasarkan hasil kajian, Waduk Jatigede pada Full Supply Level (FSL) + 260 meter sangat potensial untuk mensuplai kebutuhan air irigasi pada Daerah Irigasi Rentang “Yang amat vital adalah sebagai pemasok air bersih untuk Kabupaten Indramayu dan Cirebon,” tutur Direktur Sungai, Danau dan Waduk, Widagdo.

Manfaat dari Waduk Jatigede adalah memiliki daya tampung air sebesar 995 juta m3 yang dapat digunakan sebagai irigasi dan air baku. Disamping itu, keberadaan waduk di jabar ini nantinya dapat menambah pasokan listrik dengan produksi 789,6 GWh rata-rata per tahun. Pembangunan Waduk merupakan bagian dari sistem wilayah sungai dan 90% dari peristiwa bencana alam di era 90 an terkait dengan masalah air.

Diperkirakan saat ini lebih dari 2 miliar orang mengalami permasalahan kekeruangan air di lebih 40 negara. Separuh penduduk bumi sangat rawan terhadap sumber air yang tercemar. Padahal, tahun 2020 diperkirakan jumlah penduduk bumi akan meningkat menjadi 9 miliar dari 6 miliar kondisi saat ini. Terkait dengan masalah tersebut, ungkap Widagdo, keberadaan air harus dikelola secara terpadu mulai sekarang.

Menurutnya, ada 3 bentuk pengelolaan sumber daya air yaitu mengelola daerah aliran sungai (DAS), mengelola jaringan sumber air dan mengelola penggunaan air.  Secara langsung pembangunan bendungan merupakan upaya konservasi sumber daya air. Waduk juga merupakan salah satu sub sistem dalam satu kesatuan sistem wilayah sungai.

Pemerintah hingga 2006 telah membangun lebih dari 200 bendungan, 128 diantaranya dikategorikan dalam bendungan besar dengan kapasitas tampungan ½ juta  – 3 milyar m3. “Bila debit air di Waduk berkurang dapat ditambah melalui teknologi hujan buatan atau teknologi modifikasi cuaca (TMC). Artinya teknologi ini dapat diterapkan jika cuacanya memungkinkan,” ungkap Widagdo. (Sony)

sumber: pu.go.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s